A
L
A
N
KHOZANI - SIBOY
EXOTIZONE

Legenda Letusan Gunung Krakatau



Gunung Krakatau atau orang Barat biasa menyebutnya sebagai Krakatoa. Merupakan salah satu gunung berapi di Indonesia yang terletak di Selat Sunda di antara Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Gunung Krakatau memiliki kisah yang begitu terkenal dan mendunia karena kedahsyatan letusannya.

Para ahli dari Eropa pada abad 18 ketika jaman kolonial Hindia Belanda menduga bahwa Gunung Krakatau (813 m) pada saat itu merupakan sisa dari letusan besar sebuah gunung yang akhirnya menyisakan keadaan alam menjadi seperti saat itu. Dugaan ini diperkuat dengan naskah kuno yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi dengan judul “Pustaka Raja Parwa”. Naskah tersebut mengisahkan meletusnya Gunung Batuwara yang begitu dahsyat hingga memisahkan Pulau Jawa dan menciptakan Pulau Sumatera.

Diduga dari letusan Gunung Batuwara yang disebutkan pada naskah itu akhirnya menyisakan Pulau Rakata, Pulau Panjang (Rakata Kecil) dan Pulau Sertung yang terdapat pada tahun 1800-an. Lantas gunung yang ada di Pulau Rakata ini yang akhirnya dinamakan sebagai Gunung Krakatau.

Selain Gunung Krakatau, Pulau Rakata juga memiliki gunung lain yang lebih pendek yaitu Gunung Danan dan Gunung Perboewatan. Pada tahun 1680 diketahui bahwa Gunung Krakatau memiliki peningkatan aktivitas dengan mengalami letusan yang kecil. Gunung Perboewatan lantas aktif pada tahun 1880 dengan indikasi terdapatnya pengeluaran lava.

Setelah 200 tahun istirahat, diawali letusan kecil Gunung Krakatau pada 20 Mei 1883. Aktivitas letusan terus berlanjut hingga mencapai puncaknya dengan letusan Krakatau pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Letusan tersebut menghasilkan ledakan yang menggelegar dahsyat dan membuat wilayah Selat Sunda menjadi sangat mencekam.

Letusan Krakatau ini telah melemparkan batuan apung dan abu dengan peristiwa vulkanik yang bagaikan tanpa habis ketika itu. Letusan ini juga melenyapkan Gunung Danan dan Gunung Perboewatan dan menyisakan cekungan pada pulau Rakata. Akibat peristiwa ini setengah kerucut dari Gunung Krakatau juga ikut hancur.

Menurut dokumentasi yang ada peristiwa ini mengakibatkan kerusakkan yang luar biasa. Aktivitas vulkanik mampu melemparkan batuan hingga menuju ke Sri Lanka, Pakistan, India, Australia dan Selandia Baru. Suara letusannya terdengar sampai ke Australia dan kepulauan dekat Afrika dengan jarak sekitar 4600 km. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan hingga ke Hawaii, Amerika Tengah dan Semenanjung Arab dengan daya jangkau berjarak tujuh ribu kilometer.

Jumlah korban tewas hingga sekitar 36 ribu jiwa lebih dan lebih parahnya lagi di wilayah sekitar Jakarta dan Lampung mendapati langit gelap tertutup abu hingga beberapa hari. Hamburan debu dikonfirmasi juga menyebar hingga ke Norwegia dan New York. Peristiwa yang terjadi bukan hanya sekedar letusan gunung saja tetapi juga mengakibatkan longsoran bawah laut hingga terjadi Gelombang Tsunami. Dikabarkan pada saat itu sinar matahari terasa redup selama setahun.

Kisah tragis yang begitu dahsyat dari letusan Krakatau terjadi ketika teknologi sedang berkembang sehingga banyak dokumentasi internasional yang membahas tentang peristiwa ini. Tidak seperti letusan Gunung Tambora yang terlalu lampau dan terjadi di daerah pedalaman. Letusan Krakatau terjadi ketika teknologi sedang berkembang dan penduduk dunia sedang meningkat, tak heran bencana ini memakan korban jiwa yang cukup banyak dan akhirnya membuat penasaran para peneliti dari Eropa dan Amerika untuk meneliti Krakatau lebih lanjut.

Dokumentasi tentang Krakatau banyak dibahas oleh publik internasional, salah satunya oleh R.A Van Sandick (1890) seorang Ingenieur Belanda dengan bukunya yang berjudul “In Het Rijk van Vulcaan” (In the Realm of the Volcano, The Eruption of Krakatau and Aftermath). Buku ini membahas tentang aktivitas vulkanik dan menjadikan Gunung Krakatau sebagai bahasan studi kasusnya dengan kajian lengkap mulai dari sebelum meletus hingga berbagai dampak letusan Krakatau dan dokumentasi unik tentang Krakatau.

Banyak juga karya lainnya seperti sastra dan sineas tentang Krakatau, seperti dalam film “Krakatoa, World of Destruction” yang diproduksi oleh National Geographic. Film ini bercerita dengan setting lokasi dan waktu ketika meletusnya Krakatau pada tahun 1883. Film yang digarap dengan cukup apik karena bukan seperti dokumenter biasa tetapi dihias dengan cerita drama dan penjelasan sains tentang peristiwa meletusnya Krakatau.

Keadaan Krakatau Kini
Setelah meletus pada tahun 1883 kini di tengah antara Pulau Rakata, Pulau Panjang (Rakata Kecil) dan Pulau Sertung terdapat sebuah gunung berapi yang dinamakan sebagai Anak Krakatau, sebagian orang menyebutnya tetap sebagai Krakatau. Gunung Anak Krakatau memiliki tinggi sekitar 230 meter di atas permukaan laut, cukup kecil bila dibandingkan dengan Krakatau terdahulu yang bertinggi 813 meter.

Anak Krakatau juga sebagai gunung berapi dengan aktivitas yang terus meningkat. Setiap tahunnya Anak Krakatau mengalami peningkatan ketinggian yang konsisten dan bahkan mengalami pelebaran hingga seperti membentuk kepulauan di sekelilingnya.

Terdapat saling klaim di antara para ahli mengenai kelanjutan aktivitas Anak Krakatau. Ada yang mengatakan bila Anak Krakatau tidak akan meletus dahsyat seperti dulu lagi. Sebagian pendapat lainnya yang lebih realistis dengan melihat aktivitas Anak Krakatau yang terus berlanjut maka bukan tidak mungkin bila nantinya ketinggian Anak Krakatau akan mampu melampaui tinggi Krakatau pendahulunya. Tidak menutup kemungkinan pula bila kelak akan terjadi letusan yang lebih dahsyat dibandingkan yang pernah terjadi pada tahun 1883. Pendapat ini cukup bisa diterima mengingat keberadaan Anak Krakatau yang mendapat pengaruh dari lempengan Pasifik dan termasuk dalam kawasan cincin api. Segala kemungkinan bisa saja terjadi terhadap Anak Krakatau.

Saat ini hampir setiap tahunnya Anak Krakatau mengeluarkan letusan meski hanya dalam skala kecil. Hal ini mengkhawatirkan sekaligus melegakan, Anak Krakatau tidak berbahaya karena hanya mengalami letusan kecil sehingga dibutuhkan pengawasan berlanjut dan fenomena ini bisa saja bagus dari sisi historis, mengingat Krakatau terus aktif dengan letusan kecil. Bandingkan dengan pada tahun 1883 silam ketika sebelumnya Krakatau “tidur” selama 200 tahun dan akhirnya mengeluarkan letusan yang begitu besar.

Para wisatawan bisa saja melakukan kunjungan ke Anak Krakatau meski harus dalam pengawasan dan jarak yang tidak terlalu dekat. Pengawasan justru sulit dilakukan kepada para nelayan, mengingat aktivitas gunung yang terus aktif akan membuat suhu air laut di sekitarnya menjadi hangat. Keadaan ini disenangi oleh plankton yang akhirnya banyak mengundang ikan untuk kesana, keberadaan ikan ini yang akhirnya membawa nelayan untuk berperahu menuju dekat Anak Krakatau. Keadaan bisa menjadi berbahaya ketika Anak Krakatau sedang meningkat aktivitasnya sementara tanpa disadari nelayan banyak yang berada terlalu dekat dengan Anak Krakatau karena sedang mencari ikan.

Gunung Anak Krakatau memang memerlukan pengawasan yang terus menerus. Mengingat keberadaan Krakatau yang terletak di antara Pulau Sumatera dan Jawa serta Selat Sunda yang digunakan sebagai penghubung antara kedua pulau tersebut. Tentunya peristiwa bersejarah meletusnya Gunung Krakatau bisa menjadi pelajaran dan kewaspadaan. Pengetahuan semacam ini akan membuat kita lebih mawas diri dan memahami bila lokasi Indonesia dengan memiliki banyak gunung berapi bisa saja suatu saat terjadi letusan gunung atau getaran gempa bumi. Manusia harus bisa beradaptasi dengan alam karena kita hidup berdampingan dengan alam.

Berikut Adalah gambar gambar letusan Gunung krakatau Pada Saat meletus





0 Responses to “Legenda Letusan Gunung Krakatau”:

Leave a comment

---------- "Baca Juga -- ANEKA MACAM TIPS"

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
X-Steel - Wait